Tawakal dan Berserah diri pada Allah

Allah akan mencukupkan segala keperluannya. Barangsiapa berpegang teguh dengan agama Allah, nescaya Allah akan menyelamatkannya. Barangsiapa menyerahkan segala urusannya kepada Allah, nescaya Allah akan memberinya petunjuk.

Solat Wajib Berjemaah..27x Pahala..

Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a. katanya, Sesungguhnya Rasulullah bersabda, Sembahyang berjemaah itu lebih baik dari mendirikan sembahyang secara bersendirian sebanyak dua puluh tujuh darjat iaitu ganjaran ;. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Taqwa Adalah Kemulian, Mati Suatu Kepastian

Sabda Baginda lagi: Maksudnya: “Hendaklah kamu bertaqwa di mana sahaja kamu berada. Ikutilah setiap kejahatan (yang kamu lakukan) dengan kebaikan, moga-moga kebaikan itu akan menghapuskan kejahatan. Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (Riwayat At Termizi dan Ahmad).

Allah Tambah Nikmat Jika Bersyukur

Orang yang bersyukur kepada Allah akan memperbanyakkan ucapan syukur dan terima kasih kepadaNya. Mereka akan mengerjakan ketaatan kepada Allah dan akan membesarkan nikmat sekalipun nikmat itu kecil

Sudah Solat?. Sesungguhnya Mati Itu Pasti

Sembahyang adalah amalan pertama yang dihisab oleh Allah pada akhirat nanti Dan ingatlah mati, sesungguhnya malaikat maut menjenguk kamu 70 kali sehari semalam 24 jam.

Ucapan Kalimat Thayyibah Seorang Muslim

Kalimat thayyibah yang termasuk ke dalam amalan yang baik dan mampu membentuk pribadi sorang muslim yang selalu ingat dan berhubungan dengan Allah SWT. Dalam kehidupan sehari-hari alangkah baiknya membentuk budaya biasa mengucapkannya

04 July 2012

Photo - Ceramah Agama Bulan Jun 2012

Gambar-Gambar yang sempat diambil semasa Ceramah Bulan Jun 2012.
Penceramah:
Ustaz Dr Azhar Bin Yaakub
Pensyarah Kanan UTM, KL

Ustazah Nurhafizah Bt Musa
Pensyarah dan Pendakwah

Tajuk: Rahsia Keberkatan Rumahtangga
Tempat: Dewan Merak Kayangan
Tarikh: 27 Jun 2012
Masa: 11:30pg - 1.00ptg






Rakaman Ceramah Agama Bulan Jun 2012

Penceramah:
Ustaz Dr Azhar Bin Yaakub
Pensyarah Kanan UTM, KL

Ustazah Nurhafizah Bt Musa
Pensyarah dan Pendakwah

Tajuk: Rahsia Keberkatan Rumahtangga
Tempat: Dewan Merak Kayangan
Tarikh: 27 Jun 2012
Masa: 11:30pg - 1.00ptg

Dahsyatnya Sakaratul Maut, Bersediakah Kita Untuk Menghadapinya ?


"Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar." (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri) (QS. Al-Anfal {8} : 50).

"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu !" Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (Qs. Al- An'am : 93).

"Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang". (H.R. Ibnu Abu Dunya).

Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Allah, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.

Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka'at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Allah Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Allah Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.


"Assalamu'alaikum, yaa Nabi Alloh". Salam Malaikat Izrail,

"Wa'alaikum salam wa rahmatulloh". Jawab Nabi Idris a.s.

Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.

Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya "menghadap". Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja. Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan "tamunya" itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan.
"Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita". pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).

"Subhanallah, (Maha Suci Alloh)" kata Nabi Idris a.s.

"Kenapa ?" Malaikat Izrail pura-pura terkejut.

"Buah-buahan ini bukan milik kita". Ungkap Nabi Idris a.s. Kemudian Beliau berkata: "Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram".
Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan ? pikir Nabi Idris a.s.

"Siapakah engkau sebenarnya ?" tanya Nabi Idris a.s.

Aku Malaikat Izrail". Jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

"Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?" selidik Nabi Idris a.s serius.

"Tidak" Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
"Atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu". Jawab Malaikat Izrail.



"Aku punya keinginan kepadamu". Tutur Nabi Idris a.s

"Apa itu ? katakanlah !". Jawab Malaikat Izrail.

"Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Allah SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku". Pinta Nabi Idris a.s.
Tanpa seizin Allah, aku tak dapat melakukannya", tolak Malaikat Izrail.

Pada saat itu pula Allah SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s. Dengan izin Allah, Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.

Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Allah SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Allah mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali.
"Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?" Tanya Malaikat Izrail.

"Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti". Jawab Nabi Idris a.s.

"Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu". Kata Malaikat Izrail.

MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s. Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ?

Bersediakah kita untuk menghadapinya ?

Tahukah Kamu Doa "Duduk Di Antara Dua Sujud"


TAHUKAH KAMU.....

Doa duduk antara Sujud yang kita selalu baca laju2..
tahukah maksudnya??

Ketika dalam "duduk di antara dua sujud."
Dalam tidak sedar, setiap hari kita memohon didalam solat kita..tetapi sayangnya, kita hanya memohon tanpa memahami, sekadar tersebut dibibir, tetapi tidak tersentuh dari hati kita selama ini.
Marilah kita mula menghayati ketika kita duduk di antara dua sujud semasa solat.
Dengan rendah hati nyatakanlah permohonan ampun kepada Allah..

Rabbighfirli.. (Tuhanku, ampuni aku..)
Diamlah sejenak, buka dada dan diri kita untuk menerima ampunan dari Allah seperti membuka diri ketika merasakan hembusan angin sepoi-sepoi atau menerima curahan air hujan ketika kita masih kecil Tetaplah membuka diri kita untuk menerima ampunan Allah. Ulangi permintaan itu beberapa kali hingga kita merasakan ketenangan.
Kemudian sampaikanlah permintaan kedua,

Warhamni.. (Sayangi aku..)
Diam dan tundukkanlah diri kita untuk menerima kasih-sayang Allah yang tak terhitung besarnya. Bukalah dada kita seluas-luasnya agar semakin banyak kasih-sayang Allah yang kita terima. Ulanglah beberapa kali hingga kita merasa cukup. Berturut-turut sampaikanlah permintaan2 berikut dengan cara sebagaimana tersebut di atas, satu persatu.

Wajburnii.. (Tutuplah aib-aibku..)
Warfa'nii.. (Angkatlah darjatku..)
Warzuqnii.. (Berilah aku rezeki..)
Wahdinii.. (Berilah aku petunjuk..)
Wa'Aafinii.. (Sihatkan aku..)
Wa'fuannii..(Maafkan aku..)

Setelah selesai, diamlah sejenak lalu sampaikan rasa syukur kita. Betapa besarnya nilai sebuah doa ini..sebuah doa yang kita hanya lewatkan begitu sahaja.. Dalam tidak kita sedar selama ini kita seperti sedang berpura-pura memohon sesuatu. Sebaik-baik manusia ialah orang yang dapat memberi manfaat kepada orang lain


03 July 2012

MATI!! Peringatan Penting DiPinggir Mukmin

Dalam satu wasiat Nabi Muhammad s.a.w. kepada Ibnu Umar (Abdullah) r.a. berbunyi: "Anggaplah dirimu di dunia ini sebagai seorang musafir atau pun sebagai pengembara."

Huraiannya

Hadis ini menganjurkan kepada kita supaya sentiasa mengingatkan mati dan mengurangkan cinta keterlaluan terhadap dunia yang fana ini.

Ibnu Umar pernah berkata: Jika anda masih hidup pada waktu pagi, jangan tunggu hingga ke petang dan jika anda masih hidup pada waktu petang, jangan tunggu hinga ke pagi, sediakan dirimu pada masa hidup untuk bekalan waktu mati, dan pada masa sihat untuk bekalan waktu sakit.

Justeru, wasiat Nabi di atas sentiasa mengingatkan kita betapa kita bagaikan musafir yang sedang berlalu sementara di dunia ini, maka apakah persiapan bekalan yang telah kita buat bagi menghadapi Allah SWT pada hari yang penuh dengan persoalan di padang Mahsyar?

Kita tidak akan hidup kekal dan lama di dunia, oleh itu, jangan sekali-kali kita melakukan kejahatan. Jika kejahatan yang dilakukan boleh menyebabkan kita tidak mati, maka lakukanlah, tetapi kejahatan yang kita buat semasa hidup di dunia, kesemuanya akan ditayangkan semula di hadapan Allah oleh para jururakam di kalangan para Malaikat, walaupun kita telah melupakannya, tetapi Allah sekali-kali tidak demikian.

Mereka yang telah pun meninggal dunia dan mendapat seksa kubur, meraung-raung minta pertolongan daripada orang yang masih hidup, terutamanya ahli keluarga terdekat, apakan daya, kita tidak mendengarnya, maka yang dibawa oleh seseorang dalam alam kubur bersamanya ialah amalannya semasa hidup di dunia satu ketika dahulu, maka fikir-fikirlah...

Manusia hari ini enggan bercakap tentang mati

Ia terjadi kerana manusia pada hari ini tidak berapa mahu meletakkan urusan agama itu lebih penting daripada segala-galanya. Sebagai contoh, terkadang-kadang kita dapat lihat seorang Muslim itu dari agenda hariannya sebagai seorang yang beragama Islam, tetapi tidak berusaha untuk menampilkan diri dengan Islam itu sendiri.

Sejak mencelikkan mata bangun daripada tidur, paling tidak menunaikan solat Subuh, itupun bukan dalam keadaan berjemaah, sama ada di masjid, surau ataupun menjadi imam di rumah bersama isteri dan anak-anak.

Kalau pada hujung minggu, lepas solat tidur semula, tidak berapa terikat dengan kuliah subuh, pembacaan al-Quran, membaca zikir Ma’thurat, kaunseling diri, isteri dan anak-anak, atau apa sahaja yang boleh meningkatkan peristasi iman kepada Allah SWT.

Bangun selepas itu bersarapan pagi, kemudian ke pasar atau berjalan-jalan bersama keluarga ke tempat yang boleh menghilangkan rasa gundah seminggu di pejabat.

Tetapi persoalannya di sini, kenapa elemen-elemen agama tidak termuat dalam diari atau agenda harian hidup seseorang Muslim.

Apakah kita sudah rasa cukup dengan ilmu yang ada di dada mengenai ilmu-ilmu yang boleh mengingatkan kita kepada alam kematian?

Ilmu agama terakhir yang dipelajari mungkin semasa menduduki peperiksaan SPM beberapa tahun lalu di sekolah menengah, kemudian melanjutkan pelajaran di peringkat M.A. atau PhD. Selepas daripada itu, menjawat jawatan mantap dengan gaji yang lumayan, sibuk dengan tugas harian yang akhirnya menjadikan diri teramat sibuk. Kuliah di pejabat pun tidak boleh hadir dan begitulah kuliah-kuliah yang disediakan di surau atau masjid berdekatan di rumah.

Hati menjadi keras

Rasulullah s.a.w. pada penghujung hayatnya, pernah memanggil menantu merangkap sepupu baginda iaitu Sayidina Ali bin Abi Talib. Baginda mewasiatkan kepadanya: Wahai Ali! Jika berlalu di kalangan orang Islam 40 hari (sahaja), mereka tidak hadir dan duduk dalam majlis ilmu (fardu ‘Ain), maka orang itu akan menghadapi dua akibat buruk. Pertama hatinya menjadi keras (sukar untuk menerima petunjuk llah atau segala kebaikan) dan kedua berani pula melakukan dosa-dosa besar.

Insan bernama Muslim hari ini tidak berapa mempedulikan persoalan agama mereka sendiri. Sudahlah tidak mahu jadi orang yang faham agama, melakukan dosa-dosa pula. Si suami membiarkan isteri keluar rumah tanpa berhijab (tudung kepala). Si ayah pula membiarkan anak gadis tidak berhijab dan menampakkan pusat-pusat mereka. Anak lelaki tidak mengnal huruf-huruf al-Quran dan ada yang tidak tahu mandi junub (hadas besar atau mandi wajib).

Kesemua itu adalah implikasi daripada tidak hadir dan duduk dalam majlis-majlis ilmu.

Ada antara para ibu bapa Muslim seronok melihat anak-anak mereka berjaya dalam bidang hiburan, daripada menyertai bidang nyanyian peringkat dewasa hinggalah ke peringkat bakat bintang kecil. Apa yang pasti penampilan anak-anak ini dengan pakaian yang tidak dibenarkan oleh hukum syarak, tetapi semua itu tidak dipedulikan oleh mereka yang bernama Islam.

Seolah-olah Islam tidak boleh dicakap-cakap jika hendak maju dalam pelbagai bidang dalam kehidupan dunia. Tetapi mereka lupa, bahawa Rasulullah s.a.w. ada bersabda maksudnya, “Sesiapa yang mahukan kejayaan di dunia, mestilah dengan ilmu (agama), jika dia mahu kejayaan di akhirat juga mestilah dengan ilmu, dan jika mahu kedua-duanya sekali mestilah dengan ilmu.”

Apabila ilmu agama tidak menjadi teras dan sandaran dalam kehidupan orang Islam pada zaman ini. Maka mereka sebenarnya telah mengundang pelbagai masalah seperti terlibat dengan rasuah, keruntuhan moral serta harga diri, tidak berakhlak, meninggalkan solat, penagihan dadah, mentadbir negara bukan dengan hukum Allah, dan semua masalah itu tidak akan dapat diselesaikan kecuali menerima penyelesaiannya daripada Allah juga, iaitu pelaksanaan hukum-hukum Islam dan Sunnah (hadis) Nabi Muhammad s.a.w.

Tanpa pelaksanaan hukum-hukum Islam itu menandakan bahawa manusia menolak Allah yang telah menawarkan yang terbaik buat diri, keluarga, masyarakat dan negara mereka.

Mereka tidak akan bercakap mengenai mati, bekalan untuk hari akhirat, persoalan alam kubur apatah lagi mengenai nasib di penghujung hayat, sama ada boleh mengucap dua kalimat syahadah atau pun tidak, semua ini tidak ada dalam kamus kehidupan manusia hari ini, kerana mereka sudah semakin jauh daripada Allah walaupun mereka dilahirkan sebagai seorang muslim.

Penyelesaian masalah

Justeru bagi menyelamatkan diri selagi terdaya untuk dilakukan, maka renungilah empat perkara di bawah ini seperti yang pernah diperingatkan oleh Imam Al-Ghazali:

Pertama: Berurusanlah dengan Allah sepertimana kamu suka orang bawahanmu berurusan denganmu dengan cara yang terbaik.

Kedua: Setiap kali kamu bekerja dengan orang lain, perbuatlah sepertimana kamu mahu diperbuat ke atas diri kamu. Kerana tidak sempurna iman seseorang selagi mana dia tidak suka orang lain memperolehi sesuatu yang dia sendiri menyukainya.

Ketiga: Jika kamu mahu mempelajari sesuatu, pilihlah untuk mempeljari ilmu yang dapat memperbaiki hati dan memperbaiki jiwa dan sanubarimu.

Sekiranya kalau kamu tahu umurmu hanya tinggal seminggu sahaja lagi, sudah pasti kamu tidak akan memilih untuk mempelajari ilmu fiqh, tahudid, sirah, akidah dan sebagainya.

Dan mungkin juga kamu akan mengawasi hatimu dan berusaha melepaskannya dari belenggu dunia.

Kamu akan memperbaiki akhlakmu dan sibuk untuk beribadat kepada Allah SWT (selaku Penciptanmu) setiap saat.

Justeru, kamu mestilah sentiasa berakhlak mulia, kerana sesungguhnya kematian itu akan datang pada bila-bila masa sahaja.

Begitulah cuba kamu bayangkan, jika seorang pemimpin negara akan datang menziarahimu, sudah tentu kamu akan lakukan persiapan yang mantap, menghias rumah, memperbaiki mana-mana yang tidak betul dan bermacam-macam lagi.

Keempat: Janganlah mengumpul harta dunia lebih daripada keperluanmu untuk satu tahun.

Rasulullah s.a.w. sendiri menyediakan bekalan yang sebanyak itu sahaja untuk isteri-isteri baginda yang lebih kukuh imannya hanya dengan disediakan bekalan untuk sehari setengah sahaja. Bagi orang yang suka mengumpul harta hingga tidak sempat untuk menjenguk rumah Allah tujuan untuk beribadat kepada-Nya, maka orang itu akan disibukkan Allah SWT.

Renung-renungkanlah wahai saudara-saudaraku sekalian!

Sumber:
Ustaz Zain Hashim

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More